wldad

Berusaha menjadi lebih baik

Pantaskah dia menyandang gelar Ustad?


Saya mempunyai 2x pengalaman yang kurang meng-enakkan dengan 2 orang ustad. Saya akan ceritakan disini, bukan dengan tujuan ingin menjelekkan seseorang, karena saya tidak akan menyebutkan namanya, namun saya disini bercerita dengan tujuan menginformasikan kepada teman2 bahwa belum tentu seorang yang menyandang gelar ustad adalah orang yang memang pantas di sebut ustad, jadi kita tidak bisa 100% langsung percaya dengan orang tsb sebelum kita mengenalnya lebih jauh.

Yang pertama, ternyata memang dia penipu yang berpura2 sebagai ustad dengan tujuan mengambil keuntungan dari jamaahnya, namun saya tidak akan detail cerita disini, karena kejadiannya sudah lama sekali. Yang perlu diwaspadai adalah hati2 jika kita menitipkan amanah berupa sedekah kepada seorang ustad, apakah dia bisa menjalankan amanah tsb apa tidak, karena pengalaman saya dan beberapa teman saya, dia berkedok terima sedekah dll tapi hanya untuk kepentingan pribadi. Setiap yang konsultasi, penyelesaiannya yang di anjurkan adalah dengan cara sedekah 10% kepada dia. Sebenarnya caranya ini tidak salah, karena saya sudah membuktikannya sendiri, cuma yang sangat disesalkan adalah penyalurannya yang tidak sampai kepada orang yang kita tuju.

Yang ke2 ini (masih temanan dengan yang pertama, walau dalam kota yang berbeda) dengan kasus yang berbeda namun tetap UUD (ujung2nya Duit) dan bagi saya dia tidak pantas mendapat gelar Ustad.
Mengapa ?

Hasil konsultasi, saya disarankan untuk sedekah motor kepada seorang ustad. Sebenarnya berat bagi kami, karena motor itu adalah alat transportasi kami satu2nya yang tinggal agak masuk ke dalam komplek. Namun karena kami percaya Kebesaran Allah dengan sedekah, akhirnya kami putuskan untuk kami lakukan anjuran tsb.

Motor yang kami serahkan belum lunas cicilannya (masih 2,5 tahun lagi). Namun kami tetap berniat akan melunasi cicilan tsb hingga kami dapatkan BPKB-nya dan akan kami berikan BPKB tsb kepada orang yang menerima motor kami. Sedangkan pajak motor menjadi tanggung jawab si penerima.

Awalnya tidak ada masalah, tahun pertama ( baru 6 bulan saya mensedekahkan motor ) saya masih MAU menanggung pajak motornya, karena kebetulan saya ada uang lebih, saya urus sampai selesai, si penerima yang seorang ustad ini sudah terima beres.

Di tahun ke2, si ustad ini menanyakan BPKB motornya dan minta di urus pajak motornya. Untuk masalah BPKB, padahal saya sudah menjelaskan saat menyerahkan motor bahwa cicilannya masih 2,5 tahun lagi. Jadi baru 1,5 tahun dia terima motornya kenapa dia sudah minta BPKB-nya?
Untuk masalah pajak, saya tidak mau menanggung biayanya lagi, saya hanya bersedia untuk membantu pengurusannya saja. Yang di rencanakan dia akan datang untuk memperpanjang STNK / membayar pajak motor … ternyata setelah tahu saya tidak bisa membantu BIAYA pembayaran pajaknya, dia tidak jadi datang.

2,5 tahun kemudian, ustad tsb kembali menanyakan BKPB motor dan pajaknya.
Untuk pajak tetap saya tegaskan bahwa saya hanya bisa bantu pengurusannya saja, tapi DANA tetap harus dia yang menanggung. Dan untuk cicilan, saat itu saya sedang mengalami kesulitan keuangan, sehingga pembayaran cicilan tertunggak, padahal tinggal pembayaran cicilan terakhir dan bunganya yang lebih dari 0,5juta.
Disini saya minta maaf kepada ustad tsb bahwa saya belum bisa memberikan BPKB motornya karena saya belum bisa melunasinya, karena belum ada uang.
Saat itu, saya tidak meminta dia untuk melunasinya, karena memang sudah niat saya untuk sedekah tidak tanggung2 yaitu sampai lunas cicilan motornya dan terima BPKB, yang akan saya serahkan juga ke ustad tsb.
Namun … entah kenapa tidak lama setelah saya meminta maaf belum bisa menyelesaikan cicilan karena kendala keuangan, dia malah kirim sms kepada saya yang inti isinya adalah … bahwa tiap manusia harus saling tolong menolong jika ingin di sayang oleh Allah. Manusia harus mensedekahkan hartanya jika ingin diberkahi Allah.

Loh … maksudnya apa ?
Terus terang saya agak tersinggung dengan sms tsb.
Dia anggap apa sedekah saya selama 2,5 tahun ini ?
Hanya dengan belum bisa melunasi cicilan terakhir dia menganggap saya tidak mau bersedekah ?
Padahal saya sudah menjelaskan, bahwa saya belum ada uang, saya bahkan minta maaf dan menjelaskan jika ada uang akan segera saya lunasi dan urus BPKB-nya. Kenapa dia tidak mengerti ???

6 bulan kemudian dia sms lagi menanyakan BPKB motornya.
Yang jelas saat itu, karena saya sudah kecewa dengan dia yang tidak menghargai sedekah saya selama ini, maka saya serahkan urusannya kepada suami saya. Dan kebetulan baru cicilan terakhir yang baru bisa kami lunasi, sedangkan bunganya kami belum sanggup untuk melunasinya, yang berarti BPKB motornya belum bisa kami terima dan belum bisa kami berikan kepadanya sebagai Kelengkapan 100% sedekah kami kepadanya.
Akhirnya dia menanyakan berapa sih sisanya ? Suami saya jawab hampir 1 juta. Beberapa minggu kemudian dia bilang bahwa dia akan melunasinya.
Kami pikir … kalau memang dia sudah tidak sabar ingin mendapatkan BPKB motor tsb yang mana kami belum bisa membayar bunganya, ya sudah … silahkan, toh motor sudah jadi haknya.
Akhirnya dia merencanakan untuk datang untuk pelunasan dan mengurus BPKBnya. Namun malam hari menjelang tanggal pelunasan yang sudah kita sepakati, dia sempat bicara … bahwa kata istrinya motornya lebih baik diserahkan lagi kepada kami.
Loh … ??? Apa lagi ini ?
Saya bicara kepada suami saya, kemungkinan istrinya berat mengeluarkan uang untuk membayar bunga, sehingga bicara seperti itu.
Cuma masalahnya … yang menawarkan diri untuk melunasinya kan pihak dia ?
Padahal kami sudah bicara … sabar … kami akan lunasi jika ada uang … BPKB aman karena masih di pihak debitor.
Kenapa mereka berkesan bahwa saya menahan2 BPKB ?

Astagfirullah … saya merasa sedekah motor saya kepada ustad tsb mubah. Karena saya kesal dan kecewa kepadanya yang tidak sabar mendapatkan BPKB, bahkan berpikir negatif kepada kami.
Kok ada ya seorang ustad seperti itu ?
Sudah enak dapat motor … kenapa pajak motornya pun tiap tahun ingin di bayari ?

Ya … Allah, ampunilah hamba-Mu ini.
Hamba sebenarnya iklas mensedekahkan motor hamba … cuma hamba hanya kecewa … kenapa penerima sedekah hamba kok orangnya TIDAK TAHU DIRI?

Astagfirullahal azim.
Engkau Maha Bijaksana … Engkau Maha Berkehendak ….
Ya Allah berilah hamba kemampuan untuk melunasi bunga tsb … agar masalah ini tidak berlarut2.
Amin.

Desember 29, 2010 - Posted by | Agama |

2 Komentar »

  1. lebih baik berhati2, tapi tetap tdk menyakiti hati.

    Komentar oleh anang nurcahyo | Desember 29, 2010 | Balas

    • 🙂

      Komentar oleh wldad | Desember 31, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s